3 Tips Menyaring Informasi : Jangan Sebarkan Hoax!

Setiap hari bahkan setiap menit banyak kejadian terjadi di sekitar kita. Inilah salah satu alasan masyarakat membutuhkan informasi terhangat secepat mungkin. Oleh sebab itu, adanya portal berita online sangat memudahkan masyarakat mendapatkan informasi sesegera mungkin.

Perkembangan zaman yang menuntut semua bergerak lebih cepat membuat sejumlah media berlomba untuk menyajikan berita terkini. Namun, apakah informasi yang diberikan sudah faktual atau hanya untuk menarik pembaca mengunjungi situs tersebut namun tak ada informasi yang berarti yang bisa didapatkan masyarakat?

berita hoax - hati-hati

Media sosial juga menjadi salah satu alat provokasi tercepat. Penyebaran informasi kilat ini tak sedikit membuat publik langsung percaya tanpa mencari tahu terlebih dahulu faktanya bahkan justru meneruskannya kepada grup-grup chatting. Sehingga makin luaslah hoax atau berita palsu yang penyebarannya secepat kilat.

Sebagai penerima informasi, publik harus lebih cerdas dan bijaksana dalam memahami informasi yang diterima sehingga tak menjadi korban berita hoax. Sebenarnya tidak sulit untuk mengetahui kebenaran sebuah berita, kita hanya perlu memiliki sifat kritis. Beberapa tips di bawah ini bisa menjadi cara menyaring berita hoax:

Cek alamat situs sumber berita

Portal berita online yang sah tidak menggunakan blog gratisan (blogspot, wordpress.com dll) dan memiliki badan hukum. Namun, tak menutup kemungkinan juga portal berita online palsu menggunakan ekstensi domain seperti .com, .org, dan lainnya.

Kurangnya pengetahuan mengenai dunia internet masih menjadi faktor utama dan publik sering terjebak tanpa memerhatikannya sebelum mengakses. Publik disarankan memilih media yang memang sudah memiliki kredibilitas baik. Cobalah untuk mencari tahu informasi ini lebih dalam sebelum menjadi pembaca setia situs hoax.

Perhatikan judul berita

Trik standar yang sering dipakai penyebar berita hoax ialah memberikan judul semenarik mungkin tetapi tidak masuk akal atau memenggal kalimat dari badan berita yang sebenarnya tidak pantas dijadikan judul. Contohnya, “Raisa dan Hamish Daud Meninggal.” Padahal kalimat utuhnya adalah, “Raisa dan Hamish Daud meninggalkan Bali dan melanjutkan bulan madu di Maldives.” Anda tertipu? Saya juga…

Amati bukti berita

Sebuah berita baiknya didukung dengan foto atau gambar ilustrasi. Pada kenyataannya, masih saja ada pelaku penyebar kebohongan foto peristiwa berbeda namun disematkan judul yang baru hanya untuk menarik perhatian netizen. Tentunya kita pernah menemukan foto peristiwa sekian tahun lalu dan diulang kembali di tahun berikutnya pada berita serupa.

Misalnya, gempa bumi  dengan kekuatan 6,1 SR di kota Tarakan, Kalimantan Utara pada tangga; 21 Desember 2015 menyebabkan beberapa rumah mengalami rusak parah dengan foto peristiwa tersebut. Dua tahun berikutnya terjadi gempa di daerah lain namun membubuhkan foto serupa yang mengatasnamakan peristiwa yang baru terjadi yang tidak ada kaitannya dan ditambah lagi dengan judul yang memprovokasi. Selain itu, video atau foto yang tersebar bisa jadi hasil manipulasi.

  1. Berita asli menggunakan penulisan dengan bahasa Indonesia jurnalistik yang baik. Dengan kata lain tidak ada kesalahan pengetikan per kata maupun tanda baca serta mudah dipahami.
  2. Bandingkan berita serupa dengan media lain yang sudah terpercaya untuk mengetahui kebenarannya. Sebaiknya Anda proaktif mencari tahu kebenarannya tidak hanya di satu media saja. Namun juga mengecek ke media cetak atau elektronik lain untuk memastikan kebenarannya. Usahakan lebih dari dua media agar berimbang.

Bila tips-tips di atas sudah Anda praktekkan dan masih menemukan konten negatif, jangan segan untuk melaporkan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika melalui e-mail ke aduankonten@mail.kominfo.go.id. Sebarkan juga tips ini kerabat dan keluarga agar sama-sama cerdas terhindar dari mempercayai berita hoax.